Heboh Cabut Meteran Listrik Jelang Libur Lebaran | forumRiau.com - Berita Referensi Terkini

Heboh Cabut Meteran Listrik Jelang Libur Lebaran

Jelang libur lebaran tahun ini, masyarakat dihebohkan kenaikan Tarif Dasar Listrik (TDL). Kenaikan TDL yang diperkirakan mencapai 400 persen sejak akhir 2016 ini dinilai sepihak dan diam-diam dilakukan pemerintah pada waktu-waktu liburan datang.

FORUMRIAU.COM -- Namun masyarakat kritis terhadap kebijakan yang dinilai sembunyi-sembunyi dilakukan pemerintah tersebut. Kenaikan TDL itu menyusul kebijakan pemerintah mencabut subsidi listrik berkapasitas 900 Volt Ampere (VA) yang masih pakai meteran lama.

Sehingga meteran elektrik yang tidak bersubsidi akan diberlakukan kepada meteran 900 VA di seluruh Indonesia.

Sesuai data dari Perusahaan Listrik Negara (PLN), pengguna meteran berkapasitas 900 VA itu masih dominan mencapai 18,94 juta 82,2 persen dari jumlah konsumen nasional.

Masyarakat heboh dengan kelakar Dirut PLN Sofyan Basir berseloroh dengan para wartawan saat buka bersama. Ia menyatakan jika tidak mau listrik naik cabut saja meterannya. Pernyataan ini dinilai melukai mental mental masyarakat yang selama ini menikmati subsidi listrik dari kalangan menengah ke bawah punya meteran 900 VA tersebut.

Direktur Pembinaan Pengusahaan Ketenagalistrikan, Direktorat Jenderal Ketenaglistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Satya Zulfanitra menerangkan, pemerintah tidak akan sekaligus mencabut subsidi tersebut. Namun, subsidi akan dicabut dalam tiga tahap, di mana tarif listrik per kilowatt-hour (KWh) setiap periodenya akan naik 32 persen.

Dengan kenaikan yang bertahap, ia berharap dampak kenaikan lisriknya tak berdampak ke masyarakat.

"Nanti memang mekanismenya seperti itu supaya tidak terasa (kenaikan tarif listriknya) dan mencegah dampak inflasi di jangka pendek. Untuk itu, 900 VA non subsidi nanti tarifnya akan disesuaikan dalam jangka waktu dua bulan sekali," jelas Satya, Jumat (18/11/2016) lalu.

Lebih rinci ia jelaskan, tarif listrik bagi golongan ini akan naik dari posisi saat ini Rp585 per KWh menjadi Rp774 per KWh per Januari. Kemudian, tarifnya meningkat lagi menjadi Rp1.023 per KWh pada Maret dan menjadi Rp1.352 per KWh pada Mei.

Apabila dikalkulasi, maka tagihan rekening listrik pelanggan 900 VA non-subsidi akan meningkat dari angka saat ini Rp74 ribu menjadi Rp180 ribu pada Mei 2017 atau ketika subsidi sepenuhnya dicabut. Dengan kata lain, anggaran masyarakat untuk membayar tagihan listrik 900 VA akan melonjak 143 persen dalam enam bulan mendatang.

Kendati demikian, Satya menilai pencabutan subsidi listrik ini dianggap langkah yang baik karena selama ini dianggap salah sasaran.

Kepala Divisi Niaga PT PLN (Persero), Benny Marbun menyebut, tagihan listrik bagi pengguna daya 900 VA sebesar Rp74.470 per bulan dianggap masih jauh dari harga keekonomiannya sebesar Rp185,79 ribu. Sehingga, pemerintah masih perlu mesubsidi tagihan listrik 23,04 juta pelanggan sebesar Rp111.234 per bulannya.

Sayangnya, kata dia, besaran subsidi pemerintah itu justru lebih besar dibanding porsi tarif yang dibayar masyarakat. Subsidi itu kemudian terkesan mubazir setelah Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) menunjukkan bahwa hanya 17,8 persen pengguna listrik 900 VA saja yang berhak menerima bantuan tersebut.

"Subsidi tahun ini sebesar Rp60 triliun sebagian besar lari ke mereka. Alasannya, sebanyak 36,43 persen dari pelanggan PLN adalah pelanggan golongan bersubsidi 900 VA," jelasnya seperti dikutip cnnindonesiacom.(*)

Gratis ikut di:

Bagi artikel ini:

Artikel pilihan google :

    Terbaru :

    Video Pilihan: