Awas Kenali Gejala Social Climber Jika Pakai Medsos | forumRiau.com - Berita Referensi Terkini

Awas Kenali Gejala Social Climber Jika Pakai Medsos

Perilaku pengguna media sosial (Medsos) layaknya di akun facebook, WhatsApp (WA), Instagram (IG), Twitter dan sejenisnya dapat menggambarkan kondisi kejiwaan seseorang. Ahli psikologi menyebutkan kondisi kejiwaan ini sama saja dengan kehidupan nyata sebelum adanya media sosial di tengah masyarakat seperti sekarang ini.

Perilaku sering pamer sesuatu kepada banyak orang dengan tujuan agar orang lain menilai status sosialnya lebih tinggi dari orang lain, merupakan kondisi kejiwaan yang dikenal dengan istilah Social Climber.

Pakar kejiwaan menyebutkan seseorang dapat disebut dalam kondisi social climber jika ia melakukan pamer sesuatu yang dimiliki untuk memperlihatkan kepada orang lain bahwa status sosialnya lebih tinggi, padahal keadaan sebenarnya tidak demikian.

Dengan kata lain, pamer hanya sebagai kamuflase atau pengkaburan nilai status sosial dia terhadap orang lain dari keadaan diri dia sesungguhnya.

"Dia hidup tidak dalam diri yang sesungguhnya," ujar psikolog Roslina Verauli, MPsi seperti dikutip oleh detikHealth pada Sabtu (1/7/2017) kemarin.

Psikolog yang leih akrab dipanggil Vera ini menyatakan keadaan social climber kian waktu akan menyiksa sendiri terhadap diri pribadi seseorang. Karena ia hidup dalam keadaan yang tidak sesuai kenyataan sebenarnya.

Perilaku selalu melakukan upaya meningkatkan status sosial itu dilakoni dengan cara-cara yang akan mempengaruhi kondisi keuangan dia sendiri.

Para social climber ingin berada di tingkat sosial yang lebih tinggi dan mendapatkan pengakuan menjadikan kehidupan sosial yang dianggap berhasil. Tidak heran bahwa ia melakukan segala hal untuk mendapatkan status sosial itu.

Hal ini lambat laun pasti berdampak pada kehidupan finansialnya. Ia ingin mendapatkan penilaian dari orang lain bahwa kehidupan dia layak seperti orang kaya, namun pada kenyataannya tidak demikian.

"Secara finansial dia akan kesulitan sendiri," jelas psikolog yang kerap disapa Vera ini.

Ia selalu ingin memiliki barang-barang mewah namun keadaan finansial tidak mencukupi, hal ini pada akhirnya akan menimbulkan stres.

"Punya sentimen yang negatif, karena dia memilih kehidupan yang bukan dirinya," tutur Vera.

Kehidupan sebenarnya yang ia jalani dianggap tidak sesuai dengan yang ia inginkan karena berada di tingkat sosial yang lebih rendah. Ia melakukan berbagai hal tetapi tidak melalui sebuah proses terlebih dahulu.

Pada akhirnya akan mempengaruhi kualitas hidup dia. Diri dia sendiri tidak akan merasa nyaman, tidak percaya diri, dan khawatir tidak diterima di lingkungan. Akibat anggapan dan perasaan itu, hidupnya akan terus menerus merasa kurang.(*)

Gratis ikut di:

Bagi artikel ini:

Artikel Rekomendasi Google:

    Terbaru :

    Video Pilihan: