Awas..Sakit Lipedema Bukan Obesitas, Kenali Gejalanya | forumRiau.com - Berita Referensi Terkini

Awas..Sakit Lipedema Bukan Obesitas, Kenali Gejalanya

Kegemukan, peningkatan berat dan bobot badan sering jadi masalah banyak orang. Sudah menjadi rahasia umum jika obesitas atau masalah kelebihan berat badan bisa berimbas pada masalah kesehatan yang jauh lebih besar.

Sayangnya, tidak semua orang memahami dengan benar masalah obesitas.  Sebagai contoh, masih banyak orang tua yang menganggap anak yang gemuk sebagai anak yang sehat.

Selain itu, banyak pula orang yang menganggap penyakit lain sebagai masalah obesitas. Salah satu jenis penyakit yang dianggap sebagai obesitas adalah penyakit lipedema.

Penyakit sindrom lipedema bukan obesitas. Penyakit lipedema adalah sebuah kondisi dimana seseoarng akan terus mengalami pembesaran pada kakinya.

Kondisi ini mirip dengan masalah obesitas atau kelebihan berat badan, khususnya yang sudah sangat parah. Apalagi, gejala yang ditimbulkan oleh lipedema adalah penumpukan begitu banyak lemak di bawah kulit.


Banyak sekali keluarga atau orang-orang terdekat dari penderita penyakit lipedema yang justru hanya menyarankan penderitanya untuk melakukan program berat badan. Padahal, ia membutuhkan penanganan medis yang jauh lebih baik dari itu.

Kasus yang sama terjadi pada Katia Page, wanita berusia 36 tahun ini terus mengalami pembesaran kaki semenjak Ia berusia tujuh tahun dan Ia baru benar-benar menyadarinya semenjak April 2014.

Sayangnya, keluarga dan orang-orang terdekatnya hanya berpikir jika Ia mengalami masalah berat badan saja sehingga diminta untuk melakukan diet.

Hal ini membuat penyakit ini tidak ditangani dengan benar dan kakinya bisa mencapai lebar 1,2 meter! Beruntung, Page kemudian menemui dr. David Greuner untuk mendapatkan penanganan medis yang tepat.

Dr. David pun menyarankan program 10 kali hingga 12 kali operasi sedot lemak yang diharapkan mampu menurunkan kadar lemak pada kakinya sehingga bentuk kakinya menjadi baik kembali.

Sayangnya, proses penyedotan lemak ini sepertinya akan membutuhkan waktu yang sangat lama, yakni tiga hingga empat tahun.(drsc)

Gratis ikut di:

Bagi artikel ini:

Artikel Rekomendasi Google:

    Terbaru :

    Video Pilihan: