Mendengar Jeritan Hayati Riau Dikebiri Lahan Konsesi | forumRiau.com - Berita Referensi Terkini

Mendengar Jeritan Hayati Riau Dikebiri Lahan Konsesi

Di Riau, segar dan sejuknya gemuruh air terjun mengaliri anak-anak sungai masih bisa dinikmati. Area sisa hutan alam ini tidak jauh dari Kota Pekanbaru, ibu kota Provinsi Riau. Sekitar 40 km dan satu jam perjalanan kendaraan bermotor, lokasi dapat dikunjungi.

Lipat Kain, nama desa di Kabupaten Kampar ini terletak di gugusan bukit barisan yang bersebelahan dengan provinsi Sumatera Barat. Tidak heran, dulu kabarnya ada rencana pemerintah daerah untuk membangun jalan lintas menuju daerah Sumatera Barat. Tapi kabar itu kabur, setelah terbukanya akses jalan yang hanya mempermudah operasional kegiatan lahan konsesi.

Sebelum tahun 2000, Lipat Kain sebenarnya hutan alam yang sangat rindang dengan kondisi dataran tinggi dan rendah, bergelombang seperti bukit-bukit kecil. Kondisi ini merupakan kekayaan alam dari gugusan bukit menyatu dengan Bukit Barisan yang bertalian dengan Sumatera Barat.

Kala itu, pohon-pohon besar dan rindang penghasil jenis kayu kempas, meranti, kruing, balam dan lainnya menjadi paru-paru lingkungan. Namun pepohonan tersebut sudah habis ditebang seiring terbitnya HPH, HGU dan IUP untuk dibukanya lahan konsesi. Kegiatan grup perusahaan pulp and paper (bubur kertas) merambah dan membakar lahannya untuk hanya ditanami pohon akasia, terus berlanjut.

Di beberapa lokasi seperti di daerah zona tangkapan air, bendungan Sungai Paku, Kelurahan Lipat Kain Kecamatan Kampar Kiri, masyarakat malah berlomba-lomba merambah hutan sisa yang ada. Mereka membuka lahan, tebang, bakar dan ditinggal begitu saja tanpa ditanam kembali.

Kegiatan masyarakat ini tidak lepas dari alasan ekonomi. Upaya pemerintah melalui dinas terkait agar pekerjaan masyarakat merambah hutan dapat dialihkan, sepertinya belum berhasil sepenuhnya dilakukan.

Di tengah hiruk-pikuk kegiatan lahan konsesi dan perambahan hutan oleh masyarakat itu, suara siamang, ungko, dan burung enggang paruh besar, sesekali masih bisa dinikmati saat pagi dan sore hari. Jika musim kemarau tiba, kehidupan hayati ini mulai terancam kembali akibat pembakaran lahan.

Upaya pribadi masyarakat tempatan untuk menjaga hayati masih ada. Setidaknya dimulai dengan membuat usah perternakan lebah jenis kelulut. Meski ancaman asap kebakaran hutan dan lahan membayanginya seperti juga ternak lebah sialang, namun upaya itu akan berlanjut.

Harapannya, kegiatan usaha masyarakat merambah hutan akan dapat dialihkan jadi peternak lebah madu atau lebah kelulut. Sehingga ancaman perambahan dapat ditekan. Dengan lestarinya hutan sisa yang ada, maka anak-anak sungai akan tetap mengalir, air terjun tetap bergemuruh, satwa liarnya tetap terlindungi dan lestari.***

Script by : Nuskan Syarif
Editor      : Surya Koto

Gratis ikut di:

Bagi artikel ini:

Artikel Rekomendasi Google:

    Terbaru :

    Video Pilihan: