Awas Parasit Kucing Sumber Penyakit Orang Mudah Marah | forumRiau.com - Berita Referensi Terkini

Awas Parasit Kucing Sumber Penyakit Orang Mudah Marah

Orang yang mudah marah bisa jadi terkena parasit dari kucing. Anda perlu cermati parasit ini jika sering kontak dengan hewan kucing. Apalagi anda kerap mudah marah-marah.

Penyakit gangguan emosi yang membuat orang mudah marah atau rage disorder diidap oleh jutaan orang di dunia.

Penyebab masalahnya mungkin bukan karena dari sang individu saja, tapi bisa jadi juga karena ada pengaruh parasit seperti yang diteliti oleh ilmuwan dari University of Chicago.

Parasit Toxoplasma gondii atau toksoplasma adalah parasit yang aslinya ada di kucing namun kadang bisa juga 'tersasar' ke manusia karena interaksi yang dekat antar keduanya membuat sumber makanan dan minuman rentan terkontaminasi.

Setidaknya diperkirakaan parasit ini menginfeksi sekitar 30% populasi manusia di dunia.

Menurut peneliti Dr Royce Lee setidaknya dari 358 responden penelitian, mereka yang terdiagnosa dengan parasit memang terbukti ternyata lebih berisiko dua kali lipat terkena gangguan emosi atau intermittent explosive disorder (IED).

"Tapi ini bukan berarti orang-orang harus membuang kucing peliharannya," kata Lee seperti dikutip dari Medical Daily pada Senin (28/3/2016) silam dirilis healt.detikcom.

"Kami masih belum tau mekanisme apa yang terlibat di dalam hal ini. Bisa jadi ini karena peningkatan respons inflamasi di otak karena si parasit atau malah sebaliknya, orang yang agresif cenderung memelihara lebih banyak kucing atau mengonsumsi daging mentah," lanjutnya.

Peneliti mengatakan ada juga kemungkinan parasit bisa mendorong perilaku abnormal pada manusia yang terjangkit.

Karena pada alur hidup yang aslinya, toksoplasma mampu mengubah perilaku tikus yang terinfeksi menjadi tertarik pada kucing agar parasit bisa lompat inang.

"Kami masih belum tahu pasti apa yang dilakukan Toxoplasma gondii di otak meski beberapa studi kecil menunjukkan ia mampu memanipulasi kerja neuron. Jadi tergantung area otaknya, bukan tidak mungkin perubahan di otak itu bisa mendorong tendensi agresif inangnya," komentar ahli saraf Patrick House dari Stanford University.(*)

Gratis ikut di:

Bagi artikel ini:

Artikel Rekomendasi Google:

    Terbaru :

    Video Pilihan: